RSS

Selasa, April 27, 2010

Traumatic

Pengen posting soal ini dari kemaren-kemaren. Tapi waktu itu masih trauma bgt dan emang lagi pasif ngisi blog.

Kalo dulu saya pernah posting tentang “bahaya mengintai akhwat” dimana saya mengecam habis-habisan tindakan orang ga dikenal itu, sekarang saya mau berbagi keperihan yang saya alami sebagai korban. Dulu saya berazzam dalam hati, jangan sampai hal tersebut menimpa saya. Tapi Allah berkehendak lain. Waktu itu, saya pulang halaqah di tempat yang bisa ditempuh 20 menitan bersepeda. Karena udah itu ada agenda syuro PH Jakhfi jam 1, saya buru2 pulang karena selesai halaqahnya jam 12 lebih plus shalat dulu. Agak ngebut gitu coz g mau telat. Saya waktu itu ga pake jaket karena jogja lagi panas-panasnya apalagi jam segitu. Lagipula, agak lupa jg sama kasus itu karena lama berselang ga ada kejadian lagi. Sampai di Ringroad Selatan, saya otomatis lebih ngebut lagi karena jalannya lancar dan jarang kendaraan. Tetep dipinggir tentunya karena itu kan jalan motor. Udah deket asrama, tepatnya sebelum jalan yang mau masuk ke manggisan, saya merasa ada yang megang-megang jilbab saya dari belakang. Pas noleh ke kanan belakang, saya kaget bukan main. Ada sosok laki-laki yang wajahnya ketutup helm sedang mepet sepeda saya dan berusaha narik jilbab saya. Disana saya langsung sadar apa yang terjadi. Jantung saya berdebar kencang. Karena saya ngebut, berkali-kali dia gagal narik jilbab saya. Dia terus mepet saya ke pinggiran jalan. Yang terpikir oleh saya saat itu, pokoknya jilbab saya ga boleh terlepas di tangan dia. Apapun yang terjadi. Akhirnya masih dengan kecepatan tinggi, saya nekat menjatuhkan diri kesamping kiri. Orang itu sempat hilang kendali arah motornya dan memelan beberapa saat. Mungkin ga nyangka kalo saya akan menjatuhkan diri. Kemudian dia pergi gitu aja.

Saya jatuh tepat di jalan masuk ke manggisan. Alhamdulillah ga sampe nabrak pohon atau masuk sawah. Saya jatuh dengan posisi kaki tertimpa sepeda. Sakit luar biasa. Sekejap rasanya linglung dan masih shok. Kemudian saya menyingkirkan sepeda dan duduk di jalan. Air mata saya langsung mengalir. Saya menangis sesenggukan. Di satu sisi bersyukur karena jilbab yang saya pertahankan dari kelas 1 SMA ga terbuka gitu aja dipinggir jalan. Di sisi lain saya merasakan perih di sekujur tubuh. Belum rasa sakit di hati atas tindakan orang tersebut. Rasa benci yang meluap-luap. Beberapa saat seperti itu. Saya menangis sambil memeluk lutut.

Beberapa saat kemudian berhenti sebuah motor yang ditumpangi sepasang suami istri setengah baya. Mereka bertanya “kenapa dek?”
Saya jawab, “gak papa pak. Cuma jatuh dari sepeda”. Saya ga mampu cerita panjang sama pasangan suami istri itu.
Lalu mereka melanjutkan sambil si Ibu membantu saya berdiri, “tadi kami lihat dari belakang, kok ada motor mepet-mepet sepeda adik ke pinggir jalan. Itu siapa? Mau ngapain?”
“saya gak kenal pak. Tadi dia mau narik jilbab saya.”
“oalah. Jahat banget itu orang. Adik tinggal dimana?”
“saya tinggal disitu kok pak. Udah dekat. Gak apa-apa” saya menunjuk jalan masuk ke ponpes yang kelihatan dari sana. Aneh, saya bilang ‘gak apa-apa’ sambil nangis sesenggukan dan air mata ngalir deras.
“o, ya sudah kalau begitu. Lain kali hati-hati ya dek. Sekarang memang banyak orang jahat. Kami duluan ya dik.”
Saya membalas dengan senyuman. Gak lama kemudian berhenti lagi sebuah motor. Seorang bapak yang umur 40an. Beiau membawa sekeranjang roti di jok belakangnya. Penampilannya mengingatkan saya sama Osama bin Laden. Tipe mukanya kaya gitu. Lengkap dengan jenggot lebat dan kopiah putih juga pakaian khas dengan celana di atas mata kaki. Kulitnya terbakar matahari. Dengan lembut beliau bertanya,
“kenapa nak?”
Entah kenapa pas bapak ini datang saya merasa agak aman dan anehnya tangis saya malah makin keras masih sambil berdiri dan megangin sepeda yang keranjangnya rusak.
“hiks..ada orang yang mau nyopot jilbab saya pak. Hiks..”
“Masya Alloh…betul nak?”
“iya pak. Teman-teman saya juga banyak yang ngalami. Kita gak tau apa alasannya.”
“ya ampun… kejadiannya selalu di sini?”
“iya pak di sekitar sini”
“yang sabar ya nak. Saya juga punya anak yang sebaya adik ini yang di pondok. Di pondokan juga nak?”
“iya pak. Saya mondok di situ” tutur saya sambil untuk kedua kalinya nunjuk jalkan masuk asrama.
“gak ada yang luka?”
“Insya Allah enggak pak. Terima kasih”. masih nangis ini.
“yang sabar ya dik. Kadang saat kita mau menjalankan syariat dengan benar itu ada saja orang yang tidak suka. Mungkin itu bagian dari ujian Allah buat kita”. Subhanallah… kata-kata beliau menyejukkan hati saya. Jadi agak tenang meski air mata masih terus mengalir.
Akhirnya saya berjalan sambil menuntun sepeda ke asrama. Bapak itu mengiringi dengan menjalankan motornya pelan-pelan. Saya berjalan tertatih karena sakit luar biasa di kaki kanan saya. Saya belum ngecek luka-luka di tubuh saya. Tapi saya terus jalan sambil tetap nangis. Akhirnya bapak itu melajukan motornya saat saya masuk jalan asrama setelah sebelumnya pamit dan mengucap salam.
Setelah itu saya memakai slayer untuk menutupi wajah saya yang masih terus nangis. Malah agak-agak kenceng gitu. Cengeng ya… padahal saat Rasulullah berdakwah di Thaif dan dilempari batu sampai kedua kaki beliau berlumuran darah beliau tidak menangis. Pengorbanan beliau sangat besar demi menegakkan agama Allah berupa penderitaan dan penindasan. Saya, baru berusaha mempertahankan jilbab saja sudah nangis segitunya. Ya Allah…ampuni hambaMu yang lemah ini. Yang masih banyak mengeluh dalam berjuang di jalanMu.
Ternyata kaki saya luka. Sampai di asrama kaos kaki saya sebelah kanan berubah menjadi warna merah karena darah yang keluar sangat banyak. Sumbernya jempol kaki saya. Luka akibat terseret di aspal. Darahnya masuk sampai ke kuku. Kukunya jadi warna merah darah karena lukanya dibawah kuku. Kaos kaki sobek dan menempel ke luka yang agak lebar itu. Akhirnya dibuka dengan cara digunting. Pas diobati saya teriak-teriak karena perih luar biasa.
Akhirnya, saya izin telat syuro. Ga banyak yang tahu kejadian itu. Karena jam setengah 2 datang syuro saya udah ketawa-ketawa lagi. Meski sebelumnya saya sempat sms mas’ul bahwa saya datang telat karena ada sedikit musibah, tapi saya enggan untuk bercerita pada orang banyak.
Sejak saat itu saya jadi sangat jarang naik sepeda lagi. Saya trauma bahkan sampai sekarang. Kemarin saat pulang kajian naik sepeda, sepanjang jalan saya merasa ga nyaman. Tiap denger suara motor mendekat, saya ketakutan dan jantung berdebar-debar serta napas tersengal. Alhasil selama perjalanan pulang saya berkali-kali berhenti dan turun dari sepeda tiap dengar suara motor mendekat. Trauma yang pasti susah hilang…

Tidak ada komentar: