RSS

Senin, Mei 18, 2009

Kucingku Sayang Buatku Meradang


Saat membaca buku ‘Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga’ karya Muhammad Nursani, saya membaca satu bagian yang membuat saya merenungi sesuatu.


Imam Qurthubi mengutip perkataan seorang pemberi nasehat di mesir pada tahun 469 H, ketika menjelaskan bagaimana anjing milik ashabul kahfi memperoleh keutamaan hingga kisahnya disebut dalam Al-Qur’anul karim. Katanya ‘Barangsiapa yang mencintai ahli kebaikan, maka Ia akan mendapatkan berkah dari mereka. Seekor anjing mencintai orang2 yang memiliki keutamaan dan menyertai mereka, kemudian namanya disebutkan dalam kitab Allah yang mulia. Kalau sebagian anjing telah mendapat derajat begitu tinggi karena ia telah bersahabat, bergaul bersama para orang shalih, sehingga Allah menuliskan namanya di dalam Al-Qur’an, apalagi dengan orang mukmin yang bersatu dan berbaur, yang mencintai orang2 shalih dan para wali Allah.’


Saya tahu yang ditekankan dalam tulisan itu yaitu keutamaan dan pentingnya berkumpul dan bergaul dengan orang2 shalih. Tapi, saat membacanya saya teringat sama kucing2 di asrama. Saking banyaknya, jumlah kucing di asrama sampai lebih dari selusin. Terus beranak dan berkembang biak. Nah, kucing2 ini selalu bikin saya jengkel. Saya sering emosi dan marah2 menghadapi kelakuan mereka.


Kucing2 itu, suka tidur di lemari baju, mengotori baju2 di dalamnya. Suka mengendus2 bahkan mencuri makanan di asrama. Selalu mendekati dan berkelakuan menyebalkan saat kita sedang makan -bikin nafsu makan hilang-. Bulu2x nempel di mana2. Suka mengacak2 tempat sampah di setiap penjuru asrama. Sering bertengkar dengan kucing lain -bahkan kami pernah menyaksikan kanibalime dimana seekor kucing memakan anak kucing yang lain- dan melakukan aktivitas seksualnya disembarang tempat. Hobinya tidur di kasur santri (yang lebih menyebalkan seringnya di kasur saya).

Alasan2 itu udah lebih dari cukup untuk menyingkirkan mereka dari asrama. Belum lagi penyakit Toxoplasma yang dapat ditimbulkan. Membahas sedikit, penyakit toxoplasma menyebabkan seorang wanita mengalami gangguan kehamilan. Kehamilan pertama mungkin bisa melalui proses persalinan tapi anak yang dilahirkan akan cacat. Dan kehamilan selanjutnya tidak akan bertahan lama atau selalu keguguran. Sejauh ini yang saya tahu belum bisa disembuhkan karena tidak memiliki gejala dan manifestasi klinis yang bisa didiagnosa. Nah, Toxoplasma ini terdapat dalam feses kucing dan bisa bertahan di alam bebas selama bertahun2. Masalahnya, feses kucing ini bisa berbaur dengan debu dan terhirup oleh manusia. Selain itu bisa saja lalat menempel di feses dan hinggap di makanan. Juga, kucing2 itu punya hobi berguling2 di tanah yang mungkin aja sudah terkontaminasi toxoplasma dan menempel di bulu2nya. Kemudian kucing itu tidur di kasur atau di tumpukan baju. Haduh....g kebayang deh besarnya resiko yang mengintai kita. Tanpa mengingkari kelucuan mereka, dengan sangat sengaja dan tidak berperasaan kami pernah mengadakan operasi kucing. Yaitu menangkapi kucing2 di asrama, memasukkan dalam dus dan membuang mereka jauh2. Sempat berhasil dan menikmati ketenangan tanpa adanya kucing. Tapi, seminggu kemudian beberapa dari kucing itu balik lagi ke asrama. Bikin saya Shock berat!!


Ini bikin saya jadi mikir. Apa kucing2 itu ingin selalu menyertai kami? (bukannya pede disebut orang2 shalih neh) apa mereka mencintai kami jadi g mau ninggalin kami. Atau mau jadi penghibur kepenatan kami? Jadi inget juga kisah seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. Apa saya bisa masuk surga kalo bersikap baik sama kucing2 itu? Apa mereka malah sebenernya ladang pahala buat saya dan teman2? Hmm... renungan yang bikin saya bingung bersikap sama kucing2 itu. Karena meski diperlakukan kasar –ditendang, dihalau dengan sapu, disemprot kispray- kucing2 itu selalu mendekati.