kita sering merasakan perasaan segan pada orang lain. biasanya sie pada yang lebih tua atau yang punya jabatan lebih tinggi. rasa ini seringkali membuat kita tidak menjadi diri sendiri. terkadang jadi sulit untuk meneguhkan pendirian...
itulah yang saya alami saat ini. sejak dulu, saya selalu bertekad tidak akan pernah boncengan motor sama laki2 yang bukan mahrom saya,tukang ojek sekalipun. tapi entah kenapa karena rasa segan saya jadi longgar terhadap tekad itu.
ceritanya, saat ini saya sedang praktek kerja di puskesmas selama sebulan. selama itu, saya harus mencoba praktek di dalam gedung dan luar gedung. nah, yang diluar gedung itulah yang baru saja saya lakukan. sebut saja yandu. karena lokasi, tim yandu yang terdiri dari dua orang bapak2, satu ibu2, seorang mas2 dan dua orang mahasiswa (termasuk saya) diharuskan naik motor.
teman saya yang juga seorang akhwat langsung memilih boncengan dengan ibu2. tinggal saya yang kebingungan. pinginnya sih boncengan sama bapak2 yang sudah nikah. tapi karena situasi dan rasa segan itu, akhirnya saya boncengan sama mas2.... dan bodohnya saya (mungkin juga karena grogi), tas peralatan yang seharusnya bisa untuk pembatas malah saya pangku... padahal, mas2x itu kayaknya paham akan keengganan saya. terlihat dari ucapanya "wah, saya ga berani bonceng mbakx, bukan mahrom..." atau terlihat dari tindakan masx yang langsung nyimpan tas peralatan dibelakangnya untuk pembatas (tapi karena saking bingungnya malah g kepikiran dan g direspon sama saya) masnya juga kelihatan g enak dan risih.
saya bertekad, pulangnya saya harus boncengan sama bapak2 aja. tapi, ya Robbi.... situasi berkehendak lain. ibu2 tsb dengan seorang bapak2 ternyata g akan balik ke puskemas, langsung pulang. jd teman saya disuruh boncengan sama bapak2. alhasil, saya terpaksa boncengan lagi sama masx.....tapi kali ini dengan dibatasi tas.....
dari kejadian ini, saya belajar banyak hal. pertama, saya harus lebih tegas lagi dalam mempertahankan prinsip. kedua, dalam beramal itu tidak ada yang namanya itsar. terlihat dari teman saya yang 'menyelamatkan diri dan prinsipnya sendiri' dan membiarkan saya boncengan sama mas2 itu. ketiga, harus pandai dalam menempatkan rasa segan. keempat, harus tanggap dalam mencari alternatif lain. pokoknya, sampai benar2 mentok atau g usah ikut ja sekalian.(padahal tempat yandunya g seberapa jauh. ada sebuah penyesalan kenapa saya g naik sepeda aja). kelima, saya harus bisa bawa motor!
pesan saya, pandai2lah dalam mengelola rasa segan. saya banyak belajar dari kejadian ini. semoga kejadian serupa tidak terulang lagi pada diri saya dan anda............
note: maksud dari judul ini adalah karena dalam perjalanan sampai saya pulang dan menuliskanya disini, saya merasakan perasaan bersalah. saya deg2an takut kejadian itu akan berefek sesuatu (semoga tidak), saya takut jadi mengotori hati saya maupun mas2 itu. saya merasa hal itu sebenarnya bisa dihindari. tapi, yah, itu pelajaran berharga buat saya dalam mempertahankan prinsip. ya Allah....Engkau maha mengetahui apa yang ada di hati hambamu ini....selamatkan hamba dari segala penyakitnya....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar