RSS

Sabtu, Agustus 23, 2008

Jenak Kesedihan dalam episode perpisahan

pernahkah anda mengalami sebuah perpisahan? saya yakin semua orang pernah mengalaminya meskipun hanya sebuah perpisahan dari pertemuan kecil. sudah hakikatnya kita sebagai manusia senantiasa bertemu dengan orang2 yang baru. dan dari pertemuan itu pasti ada perpisahan yang terjadi.... tidak mungkin kita bisa bersama2 selamanya dengan orang yang kita temui. mereka datang dan pergi seiring waktu.

bagaimana rasanya sebuah perpisahan? jawaban pertanyaan ini relatif, tergantung karakter dan sifat seseorang yang menghadapinya. ada orang yang biasa2 saja menghadapi setiap perpisahan (yang saya maksud disini bukan perpisahan oleh maut) ini bisa saja karena karakter orang tersebut yang tegar. ada pula yang sulit menghadapinya.

saya mungkin termasuk dalam tipe kedua. saya paling tidak suka menghadapi setiap episode perpisahan dalam kehidupan ini. sulit rasanya berpisah dari seseorang atau sesuatu yang selama ini sudah lekat dengan kita. sudah pasti usai perpisahan itu akan terjadi sebuah kerenggangan. tak bisa dipungkiri, keakraban bisa tercapai dengan adanya intensitas pertemuan. sebuah perpisahan yang mengurangi intensitas pertemuan akan mengurangi keakraban secara perlahan2. itulah yang tidak saya sukai.

hari ini, merupakan hari perpisahan saya dan teman2 dengan pihak puskesmas Kotagede 1 setelah selama sebulan kami praktek disana. sejak pagi perasaan tak menentu sudah menghinggapi saya. perasaan enggan dan sedih yang mulai mengalir sedikit demi sedikit. saat perpisahan dan pamitan saya ingin menangis tapi saya tahan karena tidak ada teman2 yang menangis. saya malu....

saya berupaya bersikap sewajarnya padahal tangis saya rasanya mau meledak. tak sanggup rasanya berhenti tiba2 dari aktivitas yang sudah menjadi rutinitas bagi saya. seperti berangkat pagi2 dengan sepeda, membantu pekerjaan di puskesmas, bincang2 dengan pihak puskesmas.... saya takut bahwa keakraban yang telah terjalin nantinya akan hilang. mungkin yang terjadi nanti kekakuan saat bertemu lagi. saya benar2 sedih.....

pulang dari puskesmas, tangis saya pecah. saya tak bisa lagi membendung perasaan saya. berkali2 tangis yang sudah reda pecah kembali. ada yang mengatakan bahwa saya ini melankolis, entahlah yang pasti saya sulit untuk melupakan sesuatu yang sebelumnya akrab dengan saya. bahkan kucing matipun bisa saya tangisi, ada orang yang menginap beberapa hari di rumah dan kemudian pergipun akan membuat saya merasa kehilangan....

begitulah hidup ini. tak ada yang abadi. semua pada saatnya akan pergi satu per satu dari sisi kita. sah2 saja menangis karena itu adalah ungkapan perasaan. tapi jangan sampai berlarut2. itulah kenapa saya memberi judul 'jenak kesedihan' karena kesedihan itu memang hanya sejenak. setelah beberapa waktu seiring kita kembali ke rutinitas sebelumnya atau melakukan rutinitas baru, rasa sedih itu akan hilang dengan sendirinya. tinggal menunggu perpisahan lainnya yang menanti.

perpisahan ini bisa menjadi pelatihan kepekaan perasaan kita. kita juga jadi lebih menghargai keberadaan seseorang karena tahu pasti akan berpisah. juga untuk meyekini bahwa kita sendiri pada waktunya nanti akan meninggalkan semua orang2 terkasih menuju sebuah kehidupan yang abadi....barangkali episode perpisahan dalam hidup kita merupakan sebuah pengingat dari Allah untuk diri kita...pada sebuah perpisahan yang lebih besar

Tidak ada komentar: